Tambaha Uang Saku!!! Gratis

Kamis, 22 Juli 2010

Aurelius Augustinus, (354-430)


Augustinus lahir di Tagasta, Numidia (sekarang Algeria), pada 13 November 354 M dan meninggal pada tanggal 28 Agustus 430 M. Ayahnya, Patricius adalah seorang pejabat pada kekaisaran romawi, yang telah kafir sampai kematiannya pada tahun 370. Ibunya, Monica (Monnica), adalah penganut Kristen yang amat taat. Dalam bahasa latin Augustinus di kenal dengan nama Aurelius. Pendidikan yang mula-mula diterimanya ialah dalam bidang gramatika dan aritmetika. Ia sangat benci sama gurunya yang menggunakan hukuman dalam metode mengajarnya. Bahasa Yunani di bencinya sehingga ia tidak mempunyai pengetahuan yang sempurna tentang bahasa itu.

Tatkala berumur sebelas tahun, ia dikirim ke sekolah Madaurus, suatu tempat orang kafir, atau sebutlah lingkungan kafir. Lingkungan itu telah mempengaruhi perkembangan moral dan agamanya sementara ibunya selalu mendoakan agar anaknya itu menerima ajaran Kristen. Keinginan ibunya ditulis oleh Augustinus dalam bukunya ”Confessions”, yang bila diterjemahkan kira-kira berarti “Pengakuan” atau “Syahadat”. Tahun 369-370 M dihabiskannya di rumah sebagai penganggur, tetapi suatu bacaan tentang Cicero pada bukunya, Hortensius, telah membimbingnya ke filsafat.

Pada tahun 370 M, karena bantuan kawannya, Romanianus, ia pergi ke Kartago. Di sana ia tinggal bersama seorang guru wanita yang melahirkan seorang anak yang bernama Adeodatus pada tahun 371 M. Di sana ia menjadi seorang Manichean, yaitu suatu ajaran agama yang mengajarkan bahwa Mani adalah nabi yang terakhir, benar-benar sebagai juru selamat yang di janjikan oleh Kristus. Pada tahun 373-374 M ia mengajar di Tagasta, dan sembilan tahun berikutnya ia mengajar di kartago. Kemudian ia pindah ke roma, dan di sana ia mendirikan sekolah retorika, dan ia pun meninggalkan ajaran mani, lalu menjadi seorang skeptis setahun kemudian ia mendirikan sekolah di Milan.

Ada beberapa pengaruh yang di terimanya, di antaranya ialah dari Saint Ambrose, dari temannya Simplicianus, dan dari Neo-Platonisme. Semua itu menggiringnya untuk menerima gereja Kristen. Tobatlah ia. Pada hari paskah 25 April 378 ia dan anaknya, Adeodatus, dibaptiskan. Segera setelah itu ia dan kelurganya kembali ke Afrika. Di Ostia, pelabuhan Roma, ibunya meninggal dunia setelah terjadi suatu pembicaraan yang indah dengannya yang direkamnya dalam Confessions.

Setelah ia mengalami konversi, ia mengabdikan seluruh dirinya kepada tuhan dan melayani pengikut-pengikutnya. Setelah ia kembali ke Tagasta pada tahun 388, ia menjual seluruh warisan, dan uang hasil penjualan itu diberikan semuanya kepada fakir miskin. Yang tinggal hanyalah sebuah rumah yang di rumahnya menjadi suatu tempat masyarakat biarawan. Ia sebenarnya tidak berminat menjadi pendeta, tetapi pada tahun 391 ia ditasbihkan menjadi pendeta karena didesak oleh hampir semua orang di tempat tinggalnya, yaitu dekat Kota Hippo (sekarang masuk wilayah aljazair).

Pada tahun 395-396 M, ia ditasbihkan lagi menjadi pembantu uskup di Hippo. Hippo adalah sebuah kota yang berpenduduk kira-kira tiga puluh ribu orang, tetapi gereja Kristen disana tidaklah kuat karena penduduknya campuran penganut berbagai agama dan berbagai suku. Tahun terakhir kehidupannya adalah tahun-tahun peperangan bagi Imperium Romawi. Pada bulan agustus tahun 403, Valdal yang menuju ke Barat setelah menguasai Kartago, mengepung Hippo. Di tengah-tengah penyerbuan pada tanggal 28 Agustus 430, Augustinus meninggal dunia dalam kesucian dan kemiskinan yang memang sudah lama dijalaninya. Setelah penaklukan itu orang Vandal menghancurkan semua yang dijumpai mereka kecuali gereja dan perpustakaan Augustinus, yang dibiarkan tanpa diganggu. (lihat Mayer: 355-357; Encyclopedia Americana, 2:685-686; Runes:28).

Paham teosentris pada Augustinus menghasilakan revolusi dalam pemikiran orang Barat. anggapannya yang meremehkan pengetahuan duniawi, kebenciannya terhadap teori-teori kealaman, imannya kepada tuhan tetap merupakan bagian peradaban modern. Sejak zaman Augustinuslah orang barat lebih memiliki sifat introspektif, karena Augustinuslah diri dalam hubungannya dengan tuhan menjadi penting dalam filsafat. Sehingga kita selalu ingin memperoleh norma yang dapat mengulur tindakan-tindakan kita singkat. Pemikiran Augustinus mempunyai arti penting terhadap manusia modern.

Pendapat Augustinus tentang Tuhan dan Manusia

Perubahan keyakinan pada Augustinus menghasilkan perubahan yang menyeluruh dalam pandangan intelektualnya. Ajaran Augustinus dapat dikatakan berpusat pada dua unsur: Tuhan dan Manusia. Akan tetapi dapat juga dikatakan bahwa seluruh ajaran Augustinus berpusat pada Tuhan, ia yakin benar bahwa pemikiran dapat mengenal kebenaran, karena itu ia menolak skeptisme. Ia mengatakan bahwa setiap pengertian tentang kemungkinan pasti mengandung kesungguhan. Bila orang menganggap suatu dokrin adalah kemungkinan, ia harus menganggap bahwa di dalam doktrin itu ada kebenaran. Bila orang ragu bahwa dia hidup, tentu ia benar-benar hidup. Ini di buktikannya dalam ungkapanya: “If I err, I am” ungkapan itu di mulai dari keraguan tetang adanya dirinya seperti pada metode Descartes. Dari sini ia menemukan kesungguhan adanya dirinya, yang tadinya diragukannya.

Kita mengalami pencerahan ilahiyah, dan dari situ kita memperoleh langsung kesadaran tetang keagungan Tuhan. Pemikiran tidak mungkin bertentangan dengan keimanan sebab kedua-duanya datang dari sumber yang sama, yaitu Tuhan. Sebenarnya pengetahuan pada tingkat paling tinggi tetaplah rendah. Kita harus menggantungkan diri sepenuhnya pada cahaya Tuhan. Dari sini kita dapat mengatakan bahwa teori pengetahuan Augustinus adalah teori pengetahuan yang memerlukan pencerahan alahiyah. Jadi bagi Augustinus, dalam mencari kebenaran, Tuhan adalah guru.

Setalah ia yakin ia ada, setelah ia yakin bahwa ia mampu mengenal Tuhan, maka mulailah ia mempelajari Tuhan. Menurut Augustinus, dalam kita mencari kebenaran, keindahan, dan kebaikan, kita sebenarnya dibimbing oleh konsep ada kebenaran, keindahan, dan adanya kebaikan yang absolut. Ringkasnya kerelatifan menunjukan adanya ukuran mutlak. Norma yang absolut ini menjadi satu dengan eksistensi tuhan. Kesimpulan argumen ini adalah kerelatifan mendesakkan adanya kemutlakan, keanekaan mendesakkan adanya keesaan yang pasti. Dan menurut Augustinus, keesaan itu adalah Tuhan. Jadi Tuhan itu di temukan dalam rasa, bukan dalam proses pemikiran

Pendapatnya daya pemikiran manusia ada batasnya, tetapi pikiran manusia dapat mencapai kebenaran dan kepastian yang tidak ada batasnya, yang bersifat kekal dan abadi.
Ia juga mencoba membuat argumen yang lain tentang adanya Tuhan. Ia mengambil susunan alam semesta. Alam semesta ini menurutnya memerlukan penciptaan. Dia sependapat dengan Plotinus yang mengatakan bahwa Tuhan itu di atas segala jenis (categories). Sifat Tuhan yang paling penting adalah kekal, bijaksana, maha kuasa, maha tahu, maha sempurna dan tidak dapat di ubah. Keadaan alam seperti ini menurut Augustinus memerlukan pencipta dan pengatur. Augustinus tidak percaya pada dualisme fisik. Konsekuensinya adalah ia harus berpendapat bahwa kejahatan itu tidaklah positif, kejahatan itu sekedar menunjukan jarak dari ada yang sebenarnya. Tidak ada Tuhan kecuali yang Esa itu yang mempunyai sifat kesempurnaan.

Teori Pengetahuan

Augustinus menolak teori kemungkinan, dan ia berargumen 'saya tahu bahwa saya tahu dan mencinta'. Bagaimana jika anda bersalah? Saya bersalah, jadi saya ada. Kesalahan saya membuktikan adanya saya. Jika saya tahu bahwa saya tidak bersalah, saya pun tahu saya pun ada. Saya mencintai diri saya, baik tatkala saya bersalah maupun tatkala saya tidak bersalah, kedua-duanya tidaklah palsu. Bila kedua-duanya palsu, berarti saya mencintai obyek yang palsu, jadi saya mencintai obyek yang tidak ada. Akan tetapi karena saya benar-benar ada, karena saya bersalah atau tidak bersalah, maka saya mencintai obyek-obyek yang benar-benar ada yaitu saya. Tidak ada orang yang tidak ingin bahagia, semua orang ingin bahagia, jadi tidak ada orang yang ingin tidak ada sebab bagaimana mungkin seseorang memiliki kebahagian sementara ia tidak ada.

Sejak Augustinus menyakini adanya dirinya, ia yakin sekarang bahwa dirinya ada, ia mengandalkan kesadaran dan perasaan. Pandangan Augustinus atas hukum positif kurang jelas, kadang-kadang dikatakannya bahwa hukum itu harus berdasarkan pada hukum alam supaya memiliki kekuatan hukum. Kadang-kadang dikatakannya juga bahwa berlakunya hukum tergantung dari pengesahan oleh negara.

Teori tentang jiwa

Augustinus menentang ajaran yang mengatakan bahwa jiwa itu material. Menurut pendapatnya jiwa atau roh itu immaterial. Augustinus membuktikan immaterialnya jiwa dengan mengatakan jiwa itu di dalam badan, ada di mana-mana dalam badan pada waktu yang sama. Bila jiwa itu material, ia akan terikat pada tempat tertentu dalam badan. Menurut Augustinus jiwa tidak mempunyai bagian karena ia immaterial. Akan tetapi jiwa mempunyai tiga kegiatan pokok: pertama mengingat, kedua mengerti, dan ketiga mau. Oleh karena itu jiwa memiliki atau menggambarkan ketritunggalan alam (the cosmic trinity).

Augustinus tidak menerima pandangan yang mengatakan ada dunia jiwa atau dunia roh. Menurut Augustinus, yang ada ialah jiwa yang tunggal dan individual. Dikatakan tunggal karena jiwa ada pada badan, badan itu tunggal dan individual. Jiwa tidak ada bila badan tidak ada. Akan tetapi ia juga mengatakan bahwa jiwa tidak bergantung pada badan, badan akan binasa sedangkan jiwa tidak. Berbeda dengan Plato, Augustinus tidak menerima paham yang mengatakan bahwa ada jiwa pada masa praeksistensi. Ia juga menolak paham reinkarnasi. Augustinus mencoba memperlihatkan bahwa pikir (reason) dan jiwa (soul) itu bersatu.

Ia juga mengemukakan argumen lain untuk membela pendapatnya bahwa jiwa bersifat immortal (tidak bisa musnah). Menurutnya kebenaran bersifat abadi; jiwa memiliki kebenaran itu (kebenaran itu ada di dalam jiwa) karena itu jiwa itu mesti abadi. Bagi Augustinus kebenaran bersifat abadi karena kebenaran tidak terpisah dari jiwa maka jiwa itu pun harus abadi.
Mengenai penciptaan jiwa menurut Augustinus, jiwa itu diciptakan bukan memancar (emanasi) seperti pada teori Plotinus. Penempatannya di dalam bukan hasil/akibat kejatuhannya, melainkan memang kewajaran/nature jiwa itu bertempat dalam arah jasmani. Augutinus melihat hubungan antara Tuhan dan jiwa manusia sebagai perhatian utama agama. Karena jiwa diciptakan "dalam citra Tuhan", pengetahuan diri menjadi alat untuk mengenal Tuhan.

Kesimpulan

Augustinus telah meletakkan dasar-dasar abad pertengahan Ajaran Augustinus dapat dikatakan berpusat pada dua unsur, yaitu: Tuhan dan Manusia. Akan tetapi substansi seluruh ajaran Augustinus berpusat pada Tuhan. Intelektualisme tidak penting dalam sistemnya, yang penting baginya adalah cinta kepada Tuhan. Ia juga sependapat dengan Plotinus bahwa Tuhan adalah segala jenis.

Mengenai jiwa, Augustinus membaginya dalam tiga kegiatan pokok, yaitu: pertama mengingat, kedua mengerti, dan ketiga mau. Oleh karena itu jiwa memiliki atau menggambarkan ketritunggalan alam (the cosmic trinity).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar